SUDUT PANDANG PSIKOLOGI TERHADAP KOMUNIKASI
Tugas : Pondang Manurung
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Teori Perspektif
Komunikasi
ILMU KOMUNIKAS
A.
Pengantar
Dalam hidup
setiap orang, berkomunikasi merupakan bagian penting yang tidak dapat
dipisahkan pada aktivitas kehidupan manuisa. Manusia dan berkomunikasi
ibaratkan tubuh dengan udara saling membutuhkan. Demikian juga manusia dengan
berkomunikasi. Bila manusia tidak bernafas, maka ada kemungkinan besar akan
mengalami masalah. Demikian juga dengan manusia bila tidak berkomunikasi, maka
manusia tersebut akan tidak berarti bagi lingkungannya. Manusia menurut Plato (
ahli Filsafat ) bahwa manusia terdiri dari badan
dan jiwa. (Filsafat Ilmu : DR.Suwardi Endraswara. M.Hum : 2012:55 ).
Perkembangan filsafat ilmu hingga
dewasa ini banyak memberi subangsih dengan melahirkan berbagai disiplin ilmu,
termasuk ilmu tentang tubuh manusia ( anatomi ) dan psikologi. Pada pelajaran
ini kita akan membatas permasalahan sesuai dengan tugas yang diberikan, yaitu
Pandangan Psikologi terhadap Ilmu Komunikasi. Psikologi adalah mempelajari
tentang kejiwaan manusia. Istilah komunikasi berawal dari bahasa latin (
Yunani ) yaitu Communis yang diartikan membuat kebersamaan atau membangun
kebersamaan antara dua orang atau lebih ( Sutrisna Dewi, 2006 :2 )
Menurut Everent M. Rogers
(AS) ( Sutrisna Dewi : 2006 : 2 ) memberikan definisi komunikasi adalah suatu
proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran
informasi terhadap satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba kepada saling
pengertian. ( Rogers dan Kincaid : Cangara, 2004 :19 )
Psikologi
termasuk salah satu disiplin ilmu sosial. Psikologi, secara epistemologi
mengkaji tentang perubahan jiwa manusia. Psikologi umumnya menganalisis
bagaimana manusia itu berprilaku terhadap lingkungan dengan cara berkomunikasi
antar individu dengan individu dan individu dengan kelompok secara timbal
balik.
B. Hubungan Psikologi Dengan Komunikasi
Psikologi
telah menjadi bagian dalam kehidupan manuisa, bahkan terus dikaji dan diteliti.
Komunikasi dan psikologi, sebenarnya dua disiplin ilmu yang berbeda. Akan
tetapi, keduanya mempunyai hubungan erat yang dapat membangun suatu pengertian
baru untuk dipahami dengan baik demi kebahagiaan manusia. Dikatakan mempunyai hubungan
erat, memiliki kajian yang sama dalam bahasan kehidupan manuisa. Memahami hubungan
psikologi dengan komunikasi pola hubungan yang terjadi, sehingga menyimpulkan bentuk
nyata peristiwa psikologis dalam diri masing-masing peserta komunikasi. Artinya
dengan psikologi kita dapat mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat
dalam proses komunikasi. Sehingga kita dapat mengenal karakteristik diri komunikan
dan komunikator serta faktor internal dan eksternal yang memengaruhi perilaku
komunikasi itu.
Ilmu
komunikasi sebenarnya banyak menembus disiplin ilmu, sebagai gejala perilaku
setelah melakukan komunikasi. Salah satu cabang dalam keilmuannya adalah
Psikologi Komunikasi.
Psikologi juga
mampu menguraikan tentang bagaimana agar pesan yang disampaikan menjadi
stimulus yang dapat menimbulkan respons, dengan cara bagaimana penyampaian lambang-lambang
komunikasi itu ( pesan ) dapat bermakna dan bisa mengubah pola perilaku komunikan.
Dengan demikian Psikologi dapat dikatakan salah satu sebagai akar ilmu
komunikasi. Psikologi sebagai akar ilmu komunikasi merupakan ilmu yang berusaha
menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral
(perilaku) dalam berkomunikasi.
Proses
komunikasi dari komunikator ke komunikan digunakan seluruh kemampuan yang
dimiliki baik komunikator maupun komunikan, untuk memahami lambang-lambang
komunikasi (pesan) harus dilakukan dengan jelas. Dari ujung proses komunikasi
itu akan melahirkan umpan balik (feed back) dengan menciptakan
warna setuju atau tidak setuju.
Uraian
singkat diatas dapat kitga tarik benang pemahaman, bahwa filsafat ilmu dan ilmu
psikologi merupakan landasan ilmiah dalam pembahasan ilmu komunikasi. Fokus bagaimana komunikasi terjadi pada diri
manusia (intrapersonal) yang melibatkan proses sensasi,
asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir.
Sensasi
merupakan proses penyerapan lambang-lambang komunikasi (pesan) yang datang dari
luar yang ditangkap oleh pancaindra dan menghubungkannya organisme manusia
dengan lingkungannya. Sensasi merupakan pengalaman elementer yang segera dan
tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual terutama
berhubungan dengan kegiatan alat indra (Dennis Coon, dalam Benyamin B. Wolman:
1973:343). Sumber informasi (pesan yang dapat merangsang / stimulus ) yang
mempengaruhi proses sensasi bisa berasal dari dunia luar (eksternal) yang
diindrai seperti telinga atau mata serta informasi dari dalam yang diindrai,
melalui sistem peredaran darah. Disinilah tugas awal komunikator bagaimana
menciptakan proses sensasi yang baik yang dapat membuat komunikan mampu
mengendalikan perasaannya ketika dia menerima informasi yang disampaikan.
Asosiasi merupakan
pengalaman dan kepribadian yang dipengaruhi oleh proses sensasi yang meliputi
ruang lingkup pengetahuan (kognitif) dan pengalaman (empiris) dalam menemukan
dan memahami suatu kepribadian. Asosiasi disini merupakan langkah ke dua
setelah komunikan menghasilkan sensasi terhadap informasi yang diterimanya. Hal
yang mempengaruhi proses sensasi yaitu adanya stimulus (rangsangan) dan
respons (feed back). Dengan semakin banyak stimulus yang diberikan,
maka respon sering terjadi sehingga asosiasi yang terbentuk semakin kuat (hukum
latihan “law of exercise”).
Sebaliknya jika stimulus dan respons yang dihasilkan kemudian diikuti dengan
tingkat kepuasan semakin meningkat, maka asosiasi yang terbentuk akan semakin
meningkat (hukum akibat “ law of effect”). Kedua hukum ini sama–sama
akan menghasilkan fedback yang baik terhadap pengetahuan serta
kepribadian komunikan.
Persepsi merupakan
pemaknaan atau cara memandang terhadap informasi (pesan/stimulus) yang masuk ke
dalam pikiran manusia. Persepsi mampu memberikan makna pada pesan/stimulus dengan
melibatkan sensasi, attention (perhatian), ekspektasi, motivasi, dan memori
(Desiderato, 1976 : 129). Proses ini dimulai ketika informasi yang disampaikan
masuk ke dalam kognitif komunikan, kemudian diserap oleh komunikan. Informasi (pesan/stimulus)
yang masuk menjadi pikiran manusia, akan menciptakan psikomotor komunikan
terhadap baik atau buruknya informasi yang diterima komunikan.
Memori
merupakan pesan/stimulus yang telah diberi makna, direkam, dan kemudian tertanam
di dalam otak manusia. Fungsi dari memori adalah memampukan organisme manusia
untuk dapat merekam fakta dan mengaplikasikannya lewat pengetahuan untuk
membimbing dan membangun perilakunya. Proses memori ketika komunikan menerima
informasi (pesan/stimulus) adalah merekam (encoding) yaitu
pencatatan informasi melalui reseptor indra dan sirkuit syaraf internal,
kemudian penyimpanan (storage) yang menentukan berapa lama
informasi itu berada di dalam pikiran, dengan bentuk dan tempat yang berbeda,
dan komunikan mampu melakukan pemanggilan (retrieval) atau
“mengingat kembali’ dengan menggunakan informasi yang disimpan. Jenis-jenis memori
antara lain : mengingat (recall), pengenalan (recognition),
belajar lagi (relearning), dan
reintegrasi (reintegration).
Berfikir merupakan
akumulasi dari proses sensasi, asosiasi, persepsi, dan memori dengan menetapkan
suatu keputusan. Berfikir adalah kegiatan untuk memahami realitas dalam rangka
mengambil keputusan, memecahkan persoalan (problem
solving), dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity).
Hasil berpikir akan menghasilkan :
a.
Dapat membangun atau merubah pola hidup / intelektual.
b.
Melibatkan berbagai alternatif pilihan.
c.
Membangun pola keputusan dalam tindakan nyata.
Implementaasi dari semua hasil
pemukiran itu akan mencerminkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dari
seseorang.
C.
ALUR / MODEL KOMUNIKASI
Berkomunikasi
sangat besar peranannya dalam kehidupan tiap manusia. Komunikasi yang benar akan
berlangsung dengan baik apabila terdapat kesamaan pengertian akan
lambang-lambang komunikasi itu ( pesan ) yang dipunyai oleh komunikator dengan
komunikan. Dalam konteks psikologi, komunikator harus mempunyai gambaran yang
jelas tentang keadaan pemahaman komunikan secara keseluruhan dari
lambang-lambang komunikasi itu ( pesan ) yang akan disampaikan baik secara
fisik dan mental.
Jadi komunikasi
akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok, bilamana
pola pikir komunikan ada kesamaan acuan yang dapat dimengerti sehingga
terbangun hubungan kerjasama.
Menurut
Bovee dan Thill dalam bukunya Business Communication Today ( Komunikasi Bisnis,
2006 ) menguraikan proses komunikasi terdiri atas beberapa unsur seperti
berikut :
a.
Pengirim memiliki ide atau gagasan.
Berkomunikasi diawali dengan
adanya ide atau gagasan dari seseorang (si pengirim ) kemudian untuk
disampaikan kepada penerima pesan tersebut.
b.
Ide diubah menjadi pesan.
Agar ide atau gagasan itu
dapat dengan mudah dipahami oleh penerima pesan, maka ide itu harus diubah
menjadi suatu pesan yang penting. Ide yang harus diubah tersebut hendaknya
memperhatikan siapa yang akan menerima pesan tersebut.
c.
Pemindahan pesan.
Setelah ide diubah menjadi
suatu pesan, maka tahap selanjutnya adalah memindahkan pesan kepada penerima
melalui berbagai bentuk seperti pesan verbal, nonverbal, surat, laporan dan
sebagainya. Yang akan dilakukan secara langsung atau tidak secara langsung,
dengan menggunakan saluran komunikasi yang ada. Pemilihan saluran komunikasi tergantung
pada jenis dan sifat pesan yang akan disampaikan.
d.
Penerima pesan.
Peneriman pesan diartikan
sebagai setiap orang atau lembaga yang menerima pesan tersebut.
e.
Penerima pesan bereaksi dan mengirimkan umpan
balik.
Setiap penerima pesan senantiasa akan memberikan reaksi. Reaksi itu
dapat seperti mengangguk, tersenyum, dan atau secara tertulis. Umpan balik
adalah tanggapan dari penerima pesan dan merupakan elemen kunci dalam mata
rantai komunikasi. Apabila ternyata penerima tidak memahami pesan, maka pesan
tersebut perlu diperbaiki dan dikirim atau disampaikan kembali kepada si
penerima pesan.
Kurangnya
komunikasi akan dapat menghambat perkembangan kepriba-dian seseorang.
Komunikasi amat erat hubungannya dengan perilaku dan penga-laman kesadaran
manusia. Sekalipun psikologi turut dibicarakan dalam disiplin ilmu komunikasi
bukan berarti psikologi itu adalah bagian dari ilmu komunikasi. Oleh karena itu
setiap orang yang belajar tentang perilaku manusia pasti akan membicarakan
hubungan komunikasi dengan psikologi dan terkadang juga sedikit mengembang
kearah ilmu sosiologi. Komunikasi akan berjalan dengan efektif apabila
menimbulkan lima hal yaitu :
a.
Pengoperan pengertian : stimulus yang ditunjukkan oleh
komunikan secara emosial harus seimbang seperti yang dimaksudkan oleh
komunikator.
b.
Kesenangan : komunikasi yang baik akan menimbulkan
kesenangan. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan antara komunikator
dengan komunikan semakin hangat, akrab, dan menyenangkan sehingga terjalin
hubungan kerjasama.
c.
Memengaruhi sikap : komunikasi yang bersifat persuasif
memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan
yang menimbulkan efek pada komunikan. Persuasi disini dapat didefinisikan
sebagai proses memengaruhi pendapat, sikap, tindakan dengan menggunakan
manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas
kehendaknya sendiri.
d.
Hubungan sosial yang baik
e.
Tindakan / action
Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator
cocok dengan kerangkan acuan yaitu paduan pengalaman dan pengertian yang pernah
diperoleh dari komunikan. Komunikasi bagaimanapun bentuk kontekstualnya adalah
peristiwa psikologis dalam diri masing-masing peserta komunikasi. Dengan kata
lain, psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam
proses komunikasi. dilihat dari konteks psikologi sebagai ilmu
komunikasi, kaitannya komunikator dengan komunikan yaitu bagaimana komunikator
memilih sasaran dan menilai karakter komunikan agar informasi yang akan
disampaikan mampu dikemas dengan baik. Komunikator harus mampu memberikan
energi yang luar biasa kepada komunikan melalui informasi yang akan
disampaikan. Komunikator melakukan proses seperti sensasi, asosiasi, persepsi,
memori, dan berfikir. Komunikan itu sendiri yaitu bagaimana cara mereka
menangkap dan menyimpan informasi yang dikemas melalui proses tersebut agar
informasi yang disampaikan dapat memberikan perubahan yang positif terhadap
diri komunikan. Tidak terlepas dari bagaimana faktor internal dan faktor
eksternal yang dimiliki oleh komunikan. Dengan adanya komunikasi dapat
memberikan perubahan esensial dalam kehidupan kepribadian manusia. Itulah
sebabnya mengapa psikologi sangat erat kaitannya dengan proses komunikasi.
Kepustakaan
1.
DR.
Suwardi Endraswara. M.Hum. 2012. Filsafat
Ilmu, Jakarta : Buku Seru
2.
Sutrisna Dewi. 2006. Komunikasi Bisnis. Yogyakarta : Andi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar