Senin, 27 April 2015

psikologi komunikasi



SUDUT PANDANG PSIKOLOGI TERHADAP KOMUNIKASI 
Tugas : Pondang Manurung

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Teori Perspektif Komunikasi

 ILMU KOMUNIKAS


A.      Pengantar

Dalam hidup setiap orang, berkomunikasi merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan pada aktivitas kehidupan manuisa. Manusia dan berkomunikasi ibaratkan tubuh dengan udara saling membutuhkan. Demikian juga manusia dengan berkomunikasi. Bila manusia tidak bernafas, maka ada kemungkinan besar akan mengalami masalah. Demikian juga dengan manusia bila tidak berkomunikasi, maka manusia tersebut akan tidak berarti bagi lingkungannya. Manusia menurut Plato ( ahli Filsafat ) bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. (Filsafat Ilmu : DR.Suwardi Endraswara. M.Hum : 2012:55 ).

Perkembangan filsafat ilmu hingga dewasa ini banyak memberi subangsih dengan melahirkan berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu tentang tubuh manusia ( anatomi ) dan psikologi. Pada pelajaran ini kita akan membatas permasalahan sesuai dengan tugas yang diberikan, yaitu Pandangan Psikologi terhadap Ilmu Komunikasi. Psikologi adalah mempelajari tentang kejiwaan manusia. Istilah komunikasi berawal dari bahasa latin ( Yunani ) yaitu Communis yang diartikan membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih ( Sutrisna Dewi, 2006 :2 )

Menurut Everent M. Rogers (AS) ( Sutrisna Dewi : 2006 : 2 ) memberikan definisi komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba kepada saling pengertian. ( Rogers dan Kincaid : Cangara, 2004 :19 )

Psikologi termasuk salah satu disiplin ilmu sosial. Psikologi, secara epistemologi mengkaji tentang perubahan jiwa manusia. Psikologi umumnya menganalisis bagaimana manusia itu berprilaku terhadap lingkungan dengan cara berkomunikasi antar individu dengan individu dan individu dengan kelompok secara timbal balik.


B.       Hubungan Psikologi Dengan Komunikasi

Psikologi telah menjadi bagian dalam kehidupan manuisa, bahkan terus dikaji dan diteliti. Komunikasi dan psikologi, sebenarnya dua disiplin ilmu yang berbeda. Akan tetapi, keduanya mempunyai hubungan erat yang dapat membangun suatu pengertian baru untuk dipahami dengan baik demi kebahagiaan manusia. Dikatakan mempunyai hubungan erat, memiliki kajian yang sama dalam bahasan kehidupan manuisa. Memahami hubungan psikologi dengan komunikasi pola hubungan yang terjadi, sehingga menyimpulkan bentuk nyata peristiwa psikologis dalam diri masing-masing peserta komunikasi. Artinya dengan psikologi kita dapat mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Sehingga kita dapat mengenal karakteristik diri komunikan dan komunikator serta faktor internal dan eksternal yang memengaruhi perilaku komunikasi itu.

Ilmu komunikasi sebenarnya banyak menembus disiplin ilmu, sebagai gejala perilaku setelah melakukan komunikasi. Salah satu cabang dalam keilmuannya adalah Psikologi Komunikasi.

Psikologi juga mampu menguraikan tentang bagaimana agar pesan yang disampaikan menjadi stimulus yang dapat menimbulkan respons, dengan cara bagaimana penyampaian lambang-lambang komunikasi itu ( pesan ) dapat bermakna dan bisa mengubah pola perilaku komunikan. Dengan demikian Psikologi dapat dikatakan salah satu sebagai akar ilmu komunikasi. Psikologi sebagai akar ilmu komunikasi merupakan ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral (perilaku) dalam berkomunikasi.

Proses komunikasi dari komunikator ke komunikan digunakan seluruh kemampuan yang dimiliki baik komunikator maupun komunikan, untuk memahami lambang-lambang komunikasi (pesan) harus dilakukan dengan jelas. Dari ujung proses komunikasi itu akan melahirkan umpan balik (feed back) dengan menciptakan warna setuju atau tidak setuju.

Uraian singkat diatas dapat kitga tarik benang pemahaman, bahwa filsafat ilmu dan ilmu psikologi merupakan landasan ilmiah dalam pembahasan ilmu komunikasi. Fokus  bagaimana komunikasi terjadi pada diri manusia (intrapersonal) yang melibatkan proses sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir.

            Sensasi merupakan proses penyerapan lambang-lambang komunikasi (pesan) yang datang dari luar yang ditangkap oleh pancaindra dan menghubungkannya organisme manusia dengan lingkungannya. Sensasi merupakan pengalaman elementer yang segera dan tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual terutama berhubungan dengan kegiatan alat indra (Dennis Coon, dalam Benyamin B. Wolman: 1973:343). Sumber informasi (pesan yang dapat merangsang / stimulus ) yang mempengaruhi proses sensasi bisa berasal dari dunia luar (eksternal) yang diindrai seperti telinga atau mata serta informasi dari dalam yang diindrai, melalui sistem peredaran darah. Disinilah tugas awal komunikator bagaimana menciptakan proses sensasi yang baik yang dapat membuat komunikan mampu mengendalikan perasaannya ketika dia menerima informasi yang disampaikan.

Asosiasi merupakan pengalaman dan kepribadian yang dipengaruhi oleh proses sensasi yang meliputi ruang lingkup pengetahuan (kognitif) dan pengalaman (empiris) dalam menemukan dan memahami suatu kepribadian. Asosiasi disini merupakan langkah ke dua setelah komunikan menghasilkan sensasi terhadap informasi yang diterimanya. Hal yang mempengaruhi proses sensasi yaitu adanya stimulus (rangsangan) dan respons (feed back). Dengan semakin banyak stimulus yang diberikan, maka respon sering terjadi sehingga asosiasi yang terbentuk semakin kuat (hukum latihan “law of exercise”). Sebaliknya jika stimulus dan respons yang dihasilkan kemudian diikuti dengan tingkat kepuasan semakin meningkat, maka asosiasi yang terbentuk akan semakin meningkat (hukum akibat “ law of effect”). Kedua hukum ini sama–sama akan menghasilkan fedback yang baik terhadap  pengetahuan serta kepribadian komunikan.

Persepsi merupakan pemaknaan atau cara memandang terhadap informasi (pesan/stimulus) yang masuk ke dalam pikiran manusia. Persepsi mampu memberikan makna pada pesan/stimulus dengan melibatkan sensasi, attention (perhatian), ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiderato, 1976 : 129). Proses ini dimulai ketika informasi yang disampaikan masuk ke dalam kognitif komunikan, kemudian diserap oleh komunikan. Informasi (pesan/stimulus) yang masuk menjadi pikiran manusia, akan menciptakan psikomotor komunikan terhadap baik atau buruknya informasi yang diterima komunikan.

Memori merupakan pesan/stimulus yang telah diberi makna, direkam, dan kemudian tertanam di dalam otak manusia. Fungsi dari memori adalah memampukan organisme manusia untuk dapat merekam fakta dan mengaplikasikannya lewat pengetahuan untuk membimbing dan membangun perilakunya. Proses memori ketika komunikan menerima informasi (pesan/stimulus) adalah merekam (encoding) yaitu pencatatan informasi melalui reseptor indra dan sirkuit syaraf internal, kemudian penyimpanan (storage) yang menentukan berapa lama informasi itu berada di dalam pikiran, dengan bentuk dan tempat yang berbeda, dan komunikan mampu melakukan pemanggilan (retrieval) atau “mengingat kembali’ dengan menggunakan informasi yang disimpan. Jenis-jenis memori antara lain : mengingat (recall),  pengenalan (recognition),  belajar lagi (relearning),  dan reintegrasi (reintegration).

Berfikir merupakan akumulasi dari proses sensasi, asosiasi, persepsi, dan memori dengan menetapkan suatu keputusan. Berfikir adalah kegiatan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan, memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity). Hasil berpikir akan menghasilkan :
a.         Dapat membangun atau merubah pola hidup / intelektual.
b.        Melibatkan berbagai alternatif  pilihan.
c.         Membangun pola keputusan dalam tindakan nyata.

Implementaasi dari semua hasil pemukiran itu akan mencerminkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dari seseorang.


C.      ALUR / MODEL KOMUNIKASI

Berkomunikasi sangat besar peranannya dalam kehidupan tiap manusia. Komunikasi yang benar akan berlangsung dengan baik apabila terdapat kesamaan pengertian akan lambang-lambang komunikasi itu ( pesan ) yang dipunyai oleh komunikator dengan komunikan. Dalam konteks psikologi, komunikator harus mempunyai gambaran yang jelas tentang keadaan pemahaman komunikan secara keseluruhan dari lambang-lambang komunikasi itu ( pesan ) yang akan disampaikan baik secara fisik dan mental.

Jadi komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok, bilamana pola pikir komunikan ada kesamaan acuan yang dapat dimengerti sehingga terbangun hubungan kerjasama.

Menurut Bovee dan Thill dalam bukunya Business Communication Today ( Komunikasi Bisnis, 2006 ) menguraikan proses komunikasi terdiri atas beberapa unsur seperti berikut :
a.       Pengirim memiliki ide atau gagasan.
Berkomunikasi diawali dengan adanya ide atau gagasan dari seseorang (si pengirim ) kemudian untuk disampaikan kepada penerima pesan tersebut.

b.      Ide diubah menjadi pesan.
Agar ide atau gagasan itu dapat dengan mudah dipahami oleh penerima pesan, maka ide itu harus diubah menjadi suatu pesan yang penting. Ide yang harus diubah tersebut hendaknya memperhatikan siapa yang akan menerima pesan tersebut.

c.       Pemindahan pesan.
Setelah ide diubah menjadi suatu pesan, maka tahap selanjutnya adalah memindahkan pesan kepada penerima melalui berbagai bentuk seperti pesan verbal, nonverbal, surat, laporan dan sebagainya. Yang akan dilakukan secara langsung atau tidak secara langsung, dengan menggunakan saluran komunikasi yang ada. Pemilihan saluran komunikasi tergantung pada jenis dan sifat pesan yang akan disampaikan.
d.      Penerima pesan.
Peneriman pesan diartikan sebagai setiap orang atau lembaga yang menerima pesan tersebut.

e.       Penerima pesan bereaksi dan mengirimkan umpan balik.
Setiap penerima pesan  senantiasa akan memberikan reaksi. Reaksi itu dapat seperti mengangguk, tersenyum, dan atau secara tertulis. Umpan balik adalah tanggapan dari penerima pesan dan merupakan elemen kunci dalam mata rantai komunikasi. Apabila ternyata penerima tidak memahami pesan, maka pesan tersebut perlu diperbaiki dan dikirim atau disampaikan kembali kepada si penerima pesan.

Kurangnya komunikasi akan dapat menghambat perkembangan kepriba-dian seseorang. Komunikasi amat erat hubungannya dengan perilaku dan penga-laman kesadaran manusia. Sekalipun psikologi turut dibicarakan dalam disiplin ilmu komunikasi bukan berarti psikologi itu adalah bagian dari ilmu komunikasi. Oleh karena itu setiap orang yang belajar tentang perilaku manusia pasti akan membicarakan hubungan komunikasi dengan psikologi dan terkadang juga sedikit mengembang kearah ilmu sosiologi. Komunikasi akan berjalan dengan efektif apabila menimbulkan lima hal yaitu :
a.         Pengoperan pengertian : stimulus yang ditunjukkan oleh komunikan secara emosial harus seimbang seperti yang dimaksudkan oleh komunikator.
b.        Kesenangan : komunikasi yang baik akan menimbulkan kesenangan. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan antara komunikator dengan komunikan semakin hangat, akrab, dan menyenangkan sehingga terjalin hubungan kerjasama.
c.         Memengaruhi sikap : komunikasi yang bersifat persuasif memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikan. Persuasi disini dapat didefinisikan sebagai proses memengaruhi pendapat, sikap, tindakan dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri.
d.        Hubungan sosial yang baik
e.         Tindakan / action

Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangkan acuan yaitu paduan pengalaman dan pengertian yang pernah diperoleh dari komunikan. Komunikasi bagaimanapun bentuk kontekstualnya adalah peristiwa psikologis dalam diri masing-masing peserta komunikasi. Dengan kata lain, psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi.  dilihat dari konteks psikologi sebagai ilmu komunikasi, kaitannya komunikator dengan komunikan yaitu bagaimana komunikator memilih sasaran dan menilai karakter komunikan agar informasi yang akan disampaikan mampu dikemas dengan baik. Komunikator harus mampu memberikan energi yang luar biasa kepada komunikan melalui informasi yang akan disampaikan. Komunikator melakukan proses seperti sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir. Komunikan itu sendiri yaitu bagaimana cara mereka menangkap dan menyimpan informasi yang dikemas melalui proses tersebut agar informasi yang disampaikan dapat memberikan perubahan yang positif terhadap diri komunikan. Tidak terlepas dari bagaimana faktor internal dan faktor eksternal yang dimiliki oleh komunikan. Dengan adanya komunikasi dapat memberikan perubahan esensial dalam kehidupan kepribadian manusia. Itulah sebabnya mengapa psikologi sangat erat kaitannya dengan proses komunikasi.


Kepustakaan
1.        DR. Suwardi Endraswara. M.Hum. 2012. Filsafat Ilmu, Jakarta : Buku Seru
2.        Sutrisna Dewi. 2006. Komunikasi Bisnis. Yogyakarta : Andi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar